Syarifah
Minggu, 14 Juli 2019
SPIRIT HIJRAH DAN PENYATUAN KALENDER ISLAM
1951 - 1960 Periode Rintisan
Periode ini dimulai dengan Penegerian Fakultas Agama Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang diatur dengan Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 1950 Tanggal 14 Agustus 1950 dan Peresmian PTAIN pada tanggal 26 September 1951. Pada Periode ini, terjadi pula peleburan PTAIN (didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 1950) dan ADIA (didirikan berdasarkan Penetapan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1957) dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 1960 Tanggal 9 Mei 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dengan nama Al-Jami'ah al-Islamiyah al-Hukumiyah. pada periode ini, PTAIN berada di bawah kepemimpinan KHR Moh Adnan (1951-1959) dan Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya (1959-1960)
Sumber:
Sabtu, 03 Juni 2017
MACAM MACAM GAYA
Gaya merupakan tarikan atau dorongan yang dapat mempengaruhi gerak dan bentuk benda. Gaya tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan.
untuk lebih jelasnya, lihat di bawah ini
https://drive.google.com/file/d/0B08DCxig1u6keFZHZ2luWVZDQm8/view?usp=sharing
untuk lebih jelasnya, lihat di bawah ini
https://drive.google.com/file/d/0B08DCxig1u6keFZHZ2luWVZDQm8/view?usp=sharing
Rabu, 16 Desember 2015
JANJI TUHAN
Loli memang anak yang rajin, cantik, dan selalu membanggakan kedua orang tuanya. Ia selalu memperoleh peringkat yang memuaskan di sekolahnya wlalupun ayah dan ibunya hanya bekerja sebagai seorang petani.
Suatu ketika, Loli dipercaya oleh pihak sekolah untuk mewakili lomba OSN dan KSM kimia ditingkat kabupaten/kota.
“Loli, ini ada lomba OSN dan KSM kimia tingkat kabupaten/kota. Dilaksanakan tanggal 23 September 2001 besok. Ibu harap kamu bisa mengikuti lomba ini ya. Karena hanya kamu sudah dipercaya oleh pihak sekolah.” Ajak bu Vera selaku guru kimia kelas X.
“Tapi bu, saya masih perlu belajar lagi. Ilmu yang saya dapat belum saya kuasai betul. Dan saya juga perlu pembimbing untuk dapat menguasai seluruh materi kimia ini.” Jelas Loli dengan wajah yang ragu.
“Tidak apa. Selagi kamu bisa, mengapa tak mencoba? Itung-itung buat menambah pengalaman. Besok akan ibu carikan guru pembimbing yang akan mengajari kamu kimia lebih mendalam.” harap bu Vera kepada Loli.
“Eemmm. . . iya bu akan saya coba. Bismillah. Terima kasih ya bu.”
Dengan semangat yang tak pantang menyerah, Loli mulai belajar kimia dengan sungguh-sungguh dibantu Ibu Dina yang manjadi pembimbing Loli saat ini. Seminggu tiga kali bu Dina datang ke rumah Loli. Walau sudah mendapatkan guru pembimbing, Loli juga belajar sendiri di rumahnya. Setiap pulang sekolah, Loli selalu menyempatkan untuk pergi ke perpustakaan. Walaupun sekedar mencari bahan yang akan ia pelajari nanti malam. Jika ia tak mengerti, ia catat di buku tulisnya kemudian ia tanyakan kepada ibu Dina jika mereka bertemu.
Satu bulan sudah Loli belajar semaxsimal mungkin. Tepat hari ulang tahun ibunya inilah, ia siap untuk bertempur menghadapi soal-soal yang memedaskan mata. Sebelumnya, Loli sudah bangun sejak jam sepertiga malam tadi untuk melaksanakan shalat tahajud. Di dalam shalatnya ia lantunkan do’a agar diberi kemudahan dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan para dewan juri. Loli juga mencium tangan ibu dan ayahnya mohon do’a restu. Sempat ibu Loli menangis dalam pelukannya. Ia terharu melihat anaknya mempunyai bakat dan prestasi yang gemilang. Beliau selipkan do’a dan nasihat untuk Loli.
“Ya Allah, permudahkanlah anakku dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh para dewan juri nanti. Fainnama’al ‘usri yusro. Innama’al ‘usri yusro. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Lirih ibu sambil mengusap kerudung biruku.
“Nduk, kerjakan dengan baik. Teliti. Ojo kesusu. Jika merasa kesulitan, mintalah do’a pada Allah. Sebelum mengerjakan soal baca surah Al-fatihah dan Al-insyiroh tujuh kali. Insya Allah, Allah memberi kemudahan untukmu. Yakinlah nduk bahwa kamu bisa !” Nasihat ibu untuk Loli.
“Iya bu. Insya Allah Loli akan melaksanakan nasihat ibu. Loli pamit ya bu, pak. Assalamu’alaikum.” Pamit Loli.
Bersama teman-teman yang lain, Loli diantar menggunakan mobil sekolah menuju lokasi lomba. Tak henti-hentinya Loli memanjatkan do’a dan membuka buku catatannya kembali. Sekali-kali ia ngobrol dengan teman yang semobil dengannya. Ia berbagi cerita dan pengalaman dengan kakak kelas yang dahulu sudah pernah mengikuti lomba OSN dan KSM kimia. Pak Dhudy selaku guru fisika juga sekali dua kali memberikan hiburan kepada Loli dan kawan-kawan supaya tidak terlalu tegang dan frustasi. Tiba-tiba pak sopir mengagetkan Loli dan teman-teman yang sedang asyik bercanda ria. “Nahh, kita sudah sampai di lokasi. Hati-hati dalam mengerjakan ya nak. Good Luck for you !” Pak sopir mengacungkan kedua jempolnya. “Ok pak. Terima kasih ya pak.” Jawab mereka serempak.
Loli memasuki ruangan yang khusus untuk OSN dan KSM kimia. Sedangkan yang fisika dan matematika berada disebelah ruangan Loli. Jantung Loli terasa berdegup lebih kencang dari biasanya. Tegang, grogi, takut, senang, semua perasaan menjadi satu didirinya. Satu persatu para peserta memasuki ruangan yang penuh warna hitam tersebut. Sekitar 200 siswa mengikuti lomba OSN dan KSM kimia tingkat kabupaten/kota ini. Rata-rata setiap sekolah mengirimkan dua perwakilan terbaiknya.
“Masih ada 15 menit lagi. Lebih baik aku pergunakan untuk membuka buku catatanku terlebih dahulu. Barang kali ada yang kurang ku mengerti.” Lirih Loli membuka tas biru langit kesukaannya.
“Teettt. .teettt. .teettt” Bel penanda lomba terdengar. Para siswa mengeluarkan alat tulis terbaiknya. Dewan juri membagikan 2 lembar kertas yang masing-masing berisi kertas test dan kertas untuk coret-coret.“ Sebelum kalian mengerjakan, tolong perhatikan tata tertib yang akan saya bacakan ini.” Suara salah seorang dewan juri menggunakan microphone. Loli mendengarkan dengan seksama. Dan ia tak merasa keberatan sedikit pun dengan adanya tata tertib itu. Setelah tata tertib dibacakan, para siswa mulai serius mengerjakan soal-soal tersebut. Loli yang baru pertama kali ikut lomba ini, merasa tidak yakin ia bisa mengerjakannya. Ia merasa kesulitan yang sangat hebat. Soal-soal kelas kakap dikeluarkan oleh para dewan juri.
Tiga jam sudah Loli bergelut dengan soal-soal yang memaksa otaknya untuk berpikir lebih keras lagi. Wajahnya terlihat pucat pasi. Keringat bercucuran membasahi pipinya dan tiba-tiba “gubrak.” Loli terjatuh dari kursi. Ia pingsan. Ruangan ujian itu menjadi riuh. Para siswa yang serius 100% pun buyar konsentrasinya. Dewan juri yang semula menggunjing tak jelas, terkaget dengan adanya suara itu. salah seorang berteriak kepada dewan juri “Pak, ada yang pingsan.” Dewan juri segera membawa Loli ke tempat panitia agar tak mengganggu siswa yang lain. “Mohon perhatian. Maaf tadi ada kejadian yang membuat konsentrasi kalian pecah. Sekarang kalian bisa melanjutkan mengerjakan soalnya. Waktu kurang 30 menit lagi. Terima kasih.” Informasi dewan juri.
Loli yang ditangani oleh pihak medis, tak kunjung sadar. Pak Dhudy yang tau kalau Loli pingsan, segera bergerak ke ruang panitia. Perasaan cemas merubungi diri pak Dhudy. Ia menghubungi guru yang sedang menunggu peserta lain. Ia berharap agar Loli cepat tersadar. Dibantu dengan oksigen, akhirnya Loli tersadar juga. Pak Dhudy yang tadi mondar mandir seperti setrika berjalan, berhenti seketika. Ia segera bertanya bagaimana keadaan Loli sekarang.
“Loli, bagaimana keadaanmu? Dan bagaimana ujianmu tadi?” Tanya pak Dhudy tak sabar menunggu jawaban Loli.
“Sudah agak mendingan pak. Alhamdulillah soal yang saya kerjakan tadi selesai. Walaupun saya tidak tau itu salah atau benar.” Jawab Loli terengah.
“Ohh..ya sudah tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah berusaha. Hasil dan keputusan siapa yang juara, kita pasrahkan saja kepada Allah.”
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Berkat mewakili perlombaan OSN dan KSM kimia, ia menjadi sangat populer di sekolahnya. Apalagi saat ia resmi mendapat piala, piagam, dan uang sebanyak Rp.1000.000 karena keberhasilannya meraih juara 1. Semakin banyak yang meminta tolong kepadanya jika temannya tak dapat mengerjakan soal kimia. Bahkan kakak kelas yang pandainya melebihi Loli, rela mencari-cari Loli disekeliling sekolah hanya untuk meminta bagaimana cara mengerjakan soal tersebut. Bagi Loli, keberhasilannya itu tak luput dari do’a kedua orang tuanya. Meskipun begitu, Loli tak pernah menyombongkan dirinya. Ia tetap menjadi anak yang polos dan rendah hati.
ceritakuu
Si Nona S
Pondok
pesantren tak asing lagi di telingaku. Tiga tahun sudah aku hidup di pondok
pesantren. Pondok pesantren Nurul Islam adalah salah satu pondok terkenal di
Jawa Timur. Banyak santriwan santriwati yang mendaftarkan diri untuk masuk ke
pondok itu. Karena terlalu banyaknya santri, para pengurus kuwalahan untuk
menerapkan peraturan apa yang harus ditaati oleh santri-santri tersebut. Sisil
dan Sinta adalah sahabatku lama disini. Sejak pertama kali aku masuk di pondok
pesantren ini, merekalah yang mengajakku berkenalan lebih dahulu. Sampai tiga
tahun ini mereka masih tetap setia bersamaku saat suka maupun duka. Satu kelas,
satu kamar, bahkan satu ranjang dihuni kami bertiga. Karena kedekatan kami
itulah santri lain memiliki ide untuk memberi julukan kepada kami yaitu “Si Nona
S”. Kedekatan kami bertiga tak hanya terdengar di lingkungan pondok putri saja.
Para pengurus dan sebagian santri putra pun juga sudah mengetahui julukan “Si Nona
S” tersebut.
“Sif,
ayo ke ruang pengurus ! Kita dipanggil Ustadz Hamid sekarang.” Teriak Sisil
dari luar kamar.Aku
terdiam
cukup lama.
“Yee
malah bengong ni anak. Ayolah cepat, kita nggak punya banyak waktu lagi.”
Kembali Sisil meneriakiku dan menarik tanganku. Memaksa. Mulutku terkunci.
Hanya tebak menebak yang berada di pikiranku ssat ini. Rasa takut dan khawatir
tak kalah menyerang
sekujur tubuhku. Keringat bercucuran dengan derasnya. Aku paling anti dipanggil
ke ruang pengurus dan baru pertama kali ini aku dipanggil ke ruang yang konon
anker bagi para santri. Anker karena disitulah tempat dimana para santri
mendapat sidang.
“Assalamu’alaikum
Ustadz. Boleh kami masuk?” Sisil mengetuk pintu.
“Wa’alaikumussalam.
Tafadhol ukhti !” Jawab Ustadz Hamid. Sisil lebih dahulu masuk. Aku
membuntutinya dari belakang.Ustadz Hamid mempersilahkan kami duduk dengan sopan.
Aku semakin kaget setalah melihat Sinta juga berada di dalam.
“Si
Nona S berada di ruang pengurus. Pasti akan ada sesuatu yang dahsyat di pondok
putri ini.” Lirihku menebak-nebak yang akan terjadi.
“Sebelumnya,
Ustadz minta maaf
karena sudah memanggil kalian dengan tiba-tiba.” Kalimat halus keluar dari mulut beliau. Ustadz yang sangat
terkenal dengan kejudesan, kecuekan, dan ketegasannya dalam menta’zir santri
berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Aku yang dari tadi hanya
menundukkan kepala, mulai berani memandang Ustadz Hamid. Sedikit ada kelegaan
di hatiku. Lama menunggu satu patah dua patah kata selanjutnya dari mulut sang
Ustadz, Sinta memberanikan diri untuk angkat bicara.
“Maaf
Us, ada hal apakah kami dipanggil kemari? Kami memiliki kesalahan apa Us?” Ustadz Hamid memandang kami bertiga. Senyum
kecil mengembang dari bibirnya.
“Kalian tidah usah tegang. Saya
memanggil kalian kesini karena saya ingin memberi tugas kepada kalian untuk
menjadi panitia akhirussanah
besok. Para pengurus dan Pak Kyai sudah memusyawarahkan ini dengan baik. Karena
kalian memiliki skill yang cukup bagus dalam melakukan kepemimpinan. Untuk
panitia yang lainnya, kami serahkan sepenuhnya kepada kalian.” Ustadz Hamid
menjelaskan maksud dan tujuan beliau memanggil kami bertiga ke ruang pengurus.
“Apakah
panitia akan terdiri dari santri putri saja Us? Dan kapan akhirussanah dilaksanakan?” Tanyaku menginginkan penjelasan
lebih.
“Akhirussanah
dilaksanakan secepat mungkin. Untuk kali ini, kami menggabungkan akhirussanah
putra dan putri di satu tempat yaitu di depan pondok. Panitia terdiri dari
santri putra dan putri. Akan tetapi, panitia tetap berdiri sendiri-sendiri
walaupun nanti proses persiapan akan dilakukan kerjasama antara panitia putra
dan putri.”
“Syukron
Ustadz. Nanti akan kami tindak lanjuti susunan panitia ini. Assalamu’alaikum.”
Terangku dan pamit undur diri.
“Wa’alaikumussalam.”
Aku begitu gembira ketika keluar ruangan. Senyum tipis mengembang
di bibirku. Perasaan yang tadinya aku kira akan mendapatkan ta’ziran, ternyata
tidak. Aku dan dua sahabatku malah mendapatkan tugas yang tanggung jawabnya
cukup besar. Menyusun anggota panitia akhirussanah
adalah agenda kami bertiga saat ini. Panitia yang terpilih
adalah yang benar-benar serius dan mau diajak kerja keras. Aku tak mau salah
pilih tentang susunan kepanitiaan ini. Dibawah pimpinanku langsung, aku
menyuruh Sinta dan Sisil untuk memilih calon santriwati yang cocok dan sesuai
karakter yang ku cari. Setelah aku, Sinta, dan Sisil memilih anggota yang
cocok, sempat ada berdebatan kecil untuk menentukan sie acara antara pendapatku
dan pendapat Sisil. Namun hal itu dapat terselesaikan dengan memasukkan pilihan
kami berdua sebagai sie acara. Dua belas santriwati yang kami pilih berada
ditanganku. Total seluruh panitia santri putri adalah lima belas santriwati
yang terdiri dari ketua dijabat aku sendiri, wakil ketua Anis, Sinta sebagai
bendahara, Sisil sebagai sekretaris, dan dua belas lainnya sebagai sie
Pubdekdok, Konsumsi, Acara, dan Humas. Selebar kertas putih salinan “Susunan
Panitia Akhirussanah” segera aku berikan kepada Ustadz Hamid yang kebetulan
sedang memantau kegiatan santri putri agar dikonfirmasi lebih lanjut kepanitiaan ini.
“Assalamu’alaikum,
Ustadz” Salamku sambil menangkupkan kedua tangan.
“Wa’alaikumussalam, Sifa. Ada apa?
Sudah selesai menyusun panitianya?” Ustadz Hamid
membalas tangkupan tangannya kepadaku.
“Sudah Us, ini daftar nama panitia akhirussanah
besok. Apabila Ustadz ada yang tidak berkenan dengan nama tersebut, Ustadz
boleh menggantinya.” Aku menyodorkan selembar kertas kepada ustadz Hamid.
Ustadz Hamid membaca sekilas daftar nama tersebut.
“Boleh juga. Semua keputusan berada ditanganmu Sifa. Karena kamu
sudah dipercayai oleh teman-temanmu sebagai ketua panitia ini. Bersikaplah adil
dan bijaksana dalam memimpin !” Nasehat Ustadz
Hamid.
“InsyaAllah Us. Afwan. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Satu bulan sebelum
acara besar itu dilaksananakan. Panitia sangat sibuk mempersiapkan diri. Aku
dan panitia yang lainnya direpotkan dengan adanya beberapa kendala. Anggaran
biaya yang minim, surat undangan untuk para tamu, tempat lokasi yang kurang
memadai, dan susunan acara yang akan direncanakan. Semua membuat pusing para
panitia. Tak sedikit panitia yang terjatuh sakit karena kelelahan.
Meski begitu, aku tidak akan mau mengecewakan kepercayaan Ustadz Hamid
kepadaku. Sebuah peluang yang jarang didapatkan oleh santri biasa sepertiku.
Malam begitu
tenang dan sunyi. Bintang-bintang saling berlomba-lomba memberi pancaran
sinarnya kepada bumi. Aku terbaring menikmati kelelahankuseharian
penuh ini. Lantunan do’a mp3 menemaniku hingga aku lelap dalam mimpi. Tanpa salam, Sisil mendatangiku.
Mengagetkanku dari sejuta impian yang hendak kucapai.
“Sif, ini gimana proposalnya? Aku belum jelas. Ikut aku ke ruang
panitia yuk. Besok harus selesai kata Gunawan.” Sisil memaksaku untuk pergi
dengannya. Aku sedikit meronta. Menolak ajakannya.
“Sil, apa ndak seharusnya dikerjain besok aja? Ini dah wengi
lho. Lebih baik kita istirahat dulu. Seharian ini kita sudah beraktivitas
penuh. Kalau dipaksa kaya gini, nanti kamu bisa sakit. Acara kita sebentar
lagi. Lebih baik jaga kesehatanmu dahulu. Toh juga masih ada waktu besok kan?”
Terangku kepada Sisil. Sisil terdiam. Terlihat bingung dengan data kertas di
tangannya.
“Maaf kawan, bukannya aku ndak mau bantu. Tapi alangkah
baiknya kita istirahat dulu.” Aku
mengulang perkataanku. Tapi Sisil berbalik badan. Pergi meninggalkan aku tanpa
kata perpisahan.
“Sahabat macam apa kau Sif. Saat sahabatnya sendiri minta bantuan,
kamunya malah egois. Mau menang sendiri. Ketua juga kan kamu? Seharusnya
bantuin anggotamu lah. Ini juga demi acara kita biar lancar. Uhh.” Teriak Sisil
dari depan pintu. Dia memang terlihat marah. Pintu ditutupnya dengan keras.
“Astaghfirullah.” Aku mengelus dada. Air mata menetes dari
pipiku yang cabi. Menahan sakit hati yang mendalam. Kembali balutan selimut
menemaniku malam ini. Mimpi indah menambah hangatnya malam ini. Walau
sebenarnya hatiku sedang rapuh dengan ucapan Sisil tadi.
“Teettt..teett.” Suara
bel membangunkan para santri untuk melaksananakan sholat Lail. Aku memaksakan
badanku yang sebenarnya sulit untuk bangun. Air wudhu menambah kesegaran dalam
tubuhku. Sajadah suci terlentang
menghadap Ilahi. Dari sujud ke sujud. Do’a pun kulantunkan dengan khusyu’.
Mulutku berdzikir sampai datangnya Subuh. Aku berjama’ah sholat Subuh di masjid
Nurul Islam. Ketika sholat usai, Sinta menghampiriku di serambi masjid.
Ia membisikkan bahwa akan diadakan rapat dadakan bersama Pak Kyai langsung di
aula pengurus. Aku mengangguk. Mental kembali diuji. Kalimat toyyibah penenang
hati kembali kulantunkan. Pukul tujuh pagi, aku sudah duduk manis bersama Sinta
dan Akbar selaku ketua panitia putra. Pak Kyai duduk diantara Ustadz Hamid dan
Ustadz Rifai. Setelah lengkap, beliau membuka rapat ini. Rapat ini memang tidak
terlihat serius. Kami mendapatkan motivasi dari Pak Kyai dan Ustadz-Ustadzah akan
kelancaran acara ini. Akhir kata dari Pak Kyai. Beliau menyampaikan pesan yang
berisi:
1.
Ojo pernah gersulo senajan abot (Jangan pernah mengeluh walaupun berat)
2.
Ojo menang dewe.
Kekompakan kudu dijaga
(Jangan menang sendiri.
Kekompakan harus dijaga)
3.
Man
Jadda Wajada
Tiga prinsip yang dapat memotivasiku untuk mensukseskan acara tahun
ini.
“Sif, Sisil kemana kok tadi ndak kelihatan batang
hidungnya?” Tanya Sinta. Aku membisu. Kembali memori mengingatkan kejadian tadi
malam. Haruskah kuceritakan masalah ini kepada Sinta. Sinta memang lebih
dekat dengan Sisil daripada aku. Tiba-tiba Sinta memukulku keras. “Aoow..sakit
Sin.” Rintihku.
“Lah sampean ditanya malah
bengong. Sisil kemana tadi kok waktu rapat ndak kelihatan? “ Ulang
Sinta. Aku pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Sinta. Sinta
mendengarkan ceritaku dengan seksama. Ia mengangguk pelan. Mengerti inti
permasalahan yang aku hadapi.
“Dekatin dia terus Sif. Walaupun cuek, benci, hati seorang wanita
pasti akan luluh kalau kita deketin. Aku yakin itu. Pahami karakter setiap
orang. Jangan sampai persahabatan kita bubar cuma gara-gara masalah sepele
seperti ini. Dan kamu juga harus fokus kepada acara
akhirussanah nanti !” Saran Sinta. Aku mengangguk pelan. Mengerti.
Sampai puncak
acara akhirussanah, Sisil masih saja bersikap dingin kepadaku. Aku selalu
mengajaknya bicara, tapi hanya jawaban singkat yang kudapat. Bahkan aku pernah
ditinggal pergi begitu saja ketika aku menanyakan soal surat undangan
untuk Habib Shodiqi selaku penceramah.
Acara akhirussanah dilaksanakan 1 hari penuh. Pagi sampai sore
dilaksanakan khataman Al-Qur’an. Malamnya
dilanjutkan pengajian oleh Habib Shodiqi. Tema yang diangkat oleh Habib Shodiqi
adalah “Menjaga Tali Ukhuwah Islamiyah.” Sederet kata indah keluar dari mulut
beliau.
“Satu saudara adalah satu tujuan. Dan tujuan tidak akan dapat
terwujud jika tidak ada kerukunan dan kerjasama yang keras.” Aku yang kebetulan
sedang menata makanan untuk tamu bersama Sinta dan Sisil di ndalem juga
menyimak tausiyah dari Habib Shodiqi. Sekelebat pikiranku kembali tertuju
kepada Sisil. Aku langsung menghampiri Sisil.
“Sil, afwan. Maaf aku mengganggumu. Cuma minta maaf jika
selama ini aku pernah salah sama kamu. Ndak baik jika terus marahan seperti
ini. Allah mengharamkan umatnya yang berdiam-diaman lebih dari 3 hari. Dari
lubuk hatiku yang terdalam, aku benar-benar minta maaf Sil. Aku harap kamu
masih membukakan pintu maaf untukku. Dan kamu harus tau alasannya kenapa aku
kemarin nyuekin kamu. Sinta tau semua masalah ini. Aku sudah ceritain ini ke
dia. Aku ndak mau
persahabatan kita hancur Sil. Cuma masalah keegoisan kita.” Mataku berkaca-kaca
menahan tangis.
“Kamu ndak salah Sif. Aku
yang salah. Aku terlalu egois terhadap kalian. Aku juga sudah tau alasannya
kenapa kemarin kamu cuek sama aku. Aku tau ini semua juga karena Sinta.
Sintalah yang menyadarkan aku. Bahkan aku salut sama kamu Sif. Kamu selalu
sabar dalam menghadapi semua sifat setiap orang. Tidak
seperti aku yang mementingkan egoku.” Sisil menjabat tanganku. Aku
langsung memeluk Sisil yang tangisnya pecah. Sinta ikut nimbrung memeluk aku
dan Sisil.
“Hey..kaya teletubbies aja kalian peluk-pelukan segala. Ayo cepetan
itu makanan dikeluarin !” Teriak Ustadz
Hamid. Kami melepas pelukan kami dan langsung bergegas mengikuti intruksi Ustadz
Hamid. Ustadz Hamid tersenyum kepada kami bertiga. Aku hanya memandang heran
Ustadz Hamid. Sinta dan Sisil tertawa lepas melihat wajah Ustadz Hamid yang
aneh. Aku pun ikut-ikutan tertawa. Tertawa bahagia karena “Si Nona S” kembali
bersatu dengan segenap cita-cita yang terimpikan.
KEKUASAAN
Lihat malam yang begitu sunyi
Angin dingin menggerogoti tubuh mungil ini
Kain hangat yang menyelimuti ruang
Bintang kejora memamerkan kecantikannya
Malam ini adalah saksi kehidupanku
Menggapai semua keluh kesah yang selama ini menghantuiku
Ya Illahi...
Kupasrahkan semua kepadaMu
Engkau yang mengetahui semua ini
Engkau yang berkuasa atas segalanya
Tak mampu raga ini berbuat
Tak mampu mulut ini berkata
Tak mampu mata ini melihat
dan Tak mampu jua telinga ini mendengar
Semua atas kuasaMu
Engkau yang dapat mengatur kehidupan
Kehidupan yang kekal abadi
Langganan:
Postingan (Atom)