Rabu, 16 Desember 2015

JANJI TUHAN

Loli memang anak yang rajin, cantik, dan selalu membanggakan kedua orang tuanya. Ia selalu memperoleh peringkat yang memuaskan di sekolahnya wlalupun ayah dan ibunya hanya bekerja sebagai seorang petani.
Suatu ketika, Loli dipercaya oleh pihak sekolah untuk mewakili lomba OSN dan KSM kimia ditingkat kabupaten/kota.
“Loli, ini ada lomba OSN dan KSM kimia tingkat kabupaten/kota. Dilaksanakan tanggal 23 September 2001 besok. Ibu harap kamu bisa mengikuti lomba ini ya. Karena hanya kamu sudah dipercaya  oleh pihak sekolah.” Ajak bu Vera selaku guru kimia kelas X.
“Tapi bu, saya masih perlu belajar lagi. Ilmu yang saya dapat belum saya kuasai betul. Dan saya juga perlu pembimbing untuk dapat menguasai seluruh materi kimia ini.” Jelas Loli dengan wajah yang ragu.
“Tidak apa. Selagi kamu bisa, mengapa tak mencoba? Itung-itung buat menambah pengalaman. Besok akan ibu carikan guru pembimbing yang akan mengajari kamu kimia lebih mendalam.” harap bu Vera kepada Loli.
“Eemmm. . . iya bu akan saya coba. Bismillah. Terima kasih ya bu.”
Dengan semangat yang tak pantang menyerah, Loli mulai belajar kimia dengan sungguh-sungguh dibantu Ibu Dina yang manjadi pembimbing Loli saat ini. Seminggu tiga kali bu Dina datang ke rumah Loli. Walau sudah mendapatkan guru pembimbing, Loli juga belajar sendiri di rumahnya. Setiap pulang sekolah, Loli selalu menyempatkan untuk pergi ke perpustakaan. Walaupun sekedar mencari bahan yang akan ia pelajari nanti malam. Jika ia tak mengerti, ia catat di buku tulisnya kemudian ia tanyakan kepada ibu Dina jika mereka bertemu.
Satu bulan sudah Loli belajar semaxsimal mungkin. Tepat hari ulang tahun ibunya inilah, ia siap untuk bertempur menghadapi soal-soal yang memedaskan mata. Sebelumnya, Loli sudah bangun sejak jam sepertiga malam tadi untuk melaksanakan shalat tahajud. Di dalam shalatnya ia lantunkan do’a agar diberi kemudahan dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan para dewan juri. Loli juga mencium tangan ibu dan ayahnya mohon do’a restu. Sempat ibu Loli menangis dalam pelukannya. Ia terharu melihat anaknya mempunyai bakat dan prestasi yang gemilang. Beliau selipkan do’a dan nasihat untuk Loli.
“Ya Allah, permudahkanlah anakku dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh para dewan juri nanti. Fainnama’al ‘usri yusro. Innama’al ‘usri yusro. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Lirih ibu sambil mengusap kerudung biruku.
“Nduk, kerjakan dengan baik. Teliti. Ojo kesusu. Jika merasa kesulitan, mintalah do’a pada Allah. Sebelum mengerjakan soal baca surah Al-fatihah dan Al-insyiroh tujuh kali. Insya Allah, Allah memberi kemudahan untukmu. Yakinlah nduk bahwa kamu bisa !” Nasihat ibu untuk Loli.
“Iya bu. Insya Allah Loli akan melaksanakan nasihat ibu. Loli pamit ya bu, pak. Assalamu’alaikum.” Pamit Loli.
Bersama teman-teman yang lain, Loli diantar menggunakan mobil sekolah menuju lokasi lomba. Tak henti-hentinya Loli memanjatkan do’a dan membuka buku catatannya kembali. Sekali-kali ia ngobrol dengan teman yang semobil dengannya. Ia berbagi cerita dan pengalaman dengan kakak kelas yang dahulu sudah pernah mengikuti lomba OSN dan KSM kimia. Pak Dhudy selaku guru fisika juga sekali dua kali memberikan hiburan kepada Loli dan kawan-kawan supaya tidak terlalu tegang dan frustasi. Tiba-tiba pak sopir mengagetkan Loli dan teman-teman yang sedang asyik bercanda ria. “Nahh, kita sudah sampai di lokasi. Hati-hati dalam mengerjakan ya nak. Good Luck for you !” Pak sopir mengacungkan kedua jempolnya. “Ok pak. Terima kasih ya pak.” Jawab mereka serempak.
Loli memasuki ruangan yang khusus untuk OSN dan KSM kimia. Sedangkan yang fisika dan matematika berada disebelah ruangan Loli. Jantung Loli terasa berdegup lebih kencang dari biasanya. Tegang, grogi, takut, senang, semua perasaan menjadi satu didirinya. Satu persatu para peserta memasuki ruangan yang penuh warna hitam tersebut. Sekitar 200 siswa mengikuti lomba OSN dan KSM kimia tingkat kabupaten/kota ini. Rata-rata setiap sekolah mengirimkan dua perwakilan terbaiknya.
“Masih ada 15 menit lagi. Lebih baik aku pergunakan untuk membuka buku catatanku terlebih dahulu. Barang kali ada yang kurang ku mengerti.” Lirih Loli membuka tas biru langit kesukaannya.
“Teettt. .teettt. .teettt” Bel penanda lomba terdengar. Para siswa mengeluarkan alat tulis terbaiknya. Dewan juri membagikan 2 lembar kertas yang masing-masing berisi kertas test dan kertas untuk coret-coret.“ Sebelum kalian mengerjakan, tolong perhatikan tata tertib yang akan saya bacakan ini.” Suara salah seorang dewan juri menggunakan microphone. Loli mendengarkan dengan seksama. Dan ia tak merasa keberatan sedikit pun dengan adanya tata tertib itu. Setelah tata tertib dibacakan, para siswa mulai serius mengerjakan soal-soal tersebut. Loli yang baru pertama kali ikut lomba ini, merasa tidak yakin ia bisa mengerjakannya. Ia merasa kesulitan yang sangat hebat. Soal-soal kelas kakap dikeluarkan oleh para dewan juri.
Tiga jam sudah Loli bergelut dengan soal-soal yang memaksa otaknya untuk berpikir lebih keras lagi. Wajahnya terlihat pucat pasi. Keringat bercucuran membasahi pipinya dan tiba-tiba “gubrak.” Loli terjatuh dari kursi. Ia pingsan. Ruangan ujian itu menjadi riuh. Para siswa yang serius 100% pun buyar konsentrasinya. Dewan juri yang semula menggunjing tak jelas, terkaget dengan adanya suara itu. salah seorang berteriak kepada dewan juri “Pak, ada yang pingsan.” Dewan juri segera membawa Loli ke tempat panitia agar tak mengganggu siswa yang lain. “Mohon perhatian. Maaf tadi ada kejadian yang membuat konsentrasi kalian pecah. Sekarang kalian bisa melanjutkan mengerjakan soalnya. Waktu kurang 30 menit lagi. Terima kasih.” Informasi dewan juri.
Loli yang ditangani oleh pihak medis, tak kunjung sadar. Pak Dhudy yang tau kalau Loli pingsan, segera bergerak ke ruang panitia. Perasaan cemas merubungi diri pak Dhudy. Ia menghubungi guru yang sedang menunggu peserta lain. Ia berharap agar Loli cepat tersadar. Dibantu dengan oksigen, akhirnya Loli tersadar juga. Pak Dhudy yang tadi mondar mandir seperti setrika berjalan, berhenti seketika. Ia segera bertanya bagaimana keadaan Loli sekarang.
“Loli, bagaimana keadaanmu? Dan bagaimana ujianmu tadi?” Tanya pak Dhudy tak sabar menunggu jawaban Loli.
“Sudah agak mendingan pak. Alhamdulillah soal yang saya kerjakan tadi selesai. Walaupun saya tidak tau itu salah atau benar.” Jawab Loli terengah.
“Ohh..ya sudah tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah berusaha. Hasil dan keputusan siapa yang juara, kita pasrahkan saja kepada Allah.”
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Berkat mewakili perlombaan OSN dan KSM kimia, ia menjadi sangat populer di sekolahnya. Apalagi saat ia resmi mendapat piala, piagam, dan uang sebanyak Rp.1000.000 karena keberhasilannya meraih juara 1. Semakin banyak yang meminta tolong kepadanya jika temannya tak dapat mengerjakan soal kimia. Bahkan kakak kelas yang pandainya melebihi Loli, rela mencari-cari Loli disekeliling sekolah hanya untuk meminta bagaimana cara mengerjakan soal tersebut. Bagi Loli, keberhasilannya itu tak luput dari do’a kedua orang tuanya. Meskipun begitu, Loli tak pernah menyombongkan dirinya. Ia tetap menjadi anak yang polos dan rendah hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar