Si Nona S
Pondok
pesantren tak asing lagi di telingaku. Tiga tahun sudah aku hidup di pondok
pesantren. Pondok pesantren Nurul Islam adalah salah satu pondok terkenal di
Jawa Timur. Banyak santriwan santriwati yang mendaftarkan diri untuk masuk ke
pondok itu. Karena terlalu banyaknya santri, para pengurus kuwalahan untuk
menerapkan peraturan apa yang harus ditaati oleh santri-santri tersebut. Sisil
dan Sinta adalah sahabatku lama disini. Sejak pertama kali aku masuk di pondok
pesantren ini, merekalah yang mengajakku berkenalan lebih dahulu. Sampai tiga
tahun ini mereka masih tetap setia bersamaku saat suka maupun duka. Satu kelas,
satu kamar, bahkan satu ranjang dihuni kami bertiga. Karena kedekatan kami
itulah santri lain memiliki ide untuk memberi julukan kepada kami yaitu “Si Nona
S”. Kedekatan kami bertiga tak hanya terdengar di lingkungan pondok putri saja.
Para pengurus dan sebagian santri putra pun juga sudah mengetahui julukan “Si Nona
S” tersebut.
“Sif,
ayo ke ruang pengurus ! Kita dipanggil Ustadz Hamid sekarang.” Teriak Sisil
dari luar kamar.Aku
terdiam
cukup lama.
“Yee
malah bengong ni anak. Ayolah cepat, kita nggak punya banyak waktu lagi.”
Kembali Sisil meneriakiku dan menarik tanganku. Memaksa. Mulutku terkunci.
Hanya tebak menebak yang berada di pikiranku ssat ini. Rasa takut dan khawatir
tak kalah menyerang
sekujur tubuhku. Keringat bercucuran dengan derasnya. Aku paling anti dipanggil
ke ruang pengurus dan baru pertama kali ini aku dipanggil ke ruang yang konon
anker bagi para santri. Anker karena disitulah tempat dimana para santri
mendapat sidang.
“Assalamu’alaikum
Ustadz. Boleh kami masuk?” Sisil mengetuk pintu.
“Wa’alaikumussalam.
Tafadhol ukhti !” Jawab Ustadz Hamid. Sisil lebih dahulu masuk. Aku
membuntutinya dari belakang.Ustadz Hamid mempersilahkan kami duduk dengan sopan.
Aku semakin kaget setalah melihat Sinta juga berada di dalam.
“Si
Nona S berada di ruang pengurus. Pasti akan ada sesuatu yang dahsyat di pondok
putri ini.” Lirihku menebak-nebak yang akan terjadi.
“Sebelumnya,
Ustadz minta maaf
karena sudah memanggil kalian dengan tiba-tiba.” Kalimat halus keluar dari mulut beliau. Ustadz yang sangat
terkenal dengan kejudesan, kecuekan, dan ketegasannya dalam menta’zir santri
berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Aku yang dari tadi hanya
menundukkan kepala, mulai berani memandang Ustadz Hamid. Sedikit ada kelegaan
di hatiku. Lama menunggu satu patah dua patah kata selanjutnya dari mulut sang
Ustadz, Sinta memberanikan diri untuk angkat bicara.
“Maaf
Us, ada hal apakah kami dipanggil kemari? Kami memiliki kesalahan apa Us?” Ustadz Hamid memandang kami bertiga. Senyum
kecil mengembang dari bibirnya.
“Kalian tidah usah tegang. Saya
memanggil kalian kesini karena saya ingin memberi tugas kepada kalian untuk
menjadi panitia akhirussanah
besok. Para pengurus dan Pak Kyai sudah memusyawarahkan ini dengan baik. Karena
kalian memiliki skill yang cukup bagus dalam melakukan kepemimpinan. Untuk
panitia yang lainnya, kami serahkan sepenuhnya kepada kalian.” Ustadz Hamid
menjelaskan maksud dan tujuan beliau memanggil kami bertiga ke ruang pengurus.
“Apakah
panitia akan terdiri dari santri putri saja Us? Dan kapan akhirussanah dilaksanakan?” Tanyaku menginginkan penjelasan
lebih.
“Akhirussanah
dilaksanakan secepat mungkin. Untuk kali ini, kami menggabungkan akhirussanah
putra dan putri di satu tempat yaitu di depan pondok. Panitia terdiri dari
santri putra dan putri. Akan tetapi, panitia tetap berdiri sendiri-sendiri
walaupun nanti proses persiapan akan dilakukan kerjasama antara panitia putra
dan putri.”
“Syukron
Ustadz. Nanti akan kami tindak lanjuti susunan panitia ini. Assalamu’alaikum.”
Terangku dan pamit undur diri.
“Wa’alaikumussalam.”
Aku begitu gembira ketika keluar ruangan. Senyum tipis mengembang
di bibirku. Perasaan yang tadinya aku kira akan mendapatkan ta’ziran, ternyata
tidak. Aku dan dua sahabatku malah mendapatkan tugas yang tanggung jawabnya
cukup besar. Menyusun anggota panitia akhirussanah
adalah agenda kami bertiga saat ini. Panitia yang terpilih
adalah yang benar-benar serius dan mau diajak kerja keras. Aku tak mau salah
pilih tentang susunan kepanitiaan ini. Dibawah pimpinanku langsung, aku
menyuruh Sinta dan Sisil untuk memilih calon santriwati yang cocok dan sesuai
karakter yang ku cari. Setelah aku, Sinta, dan Sisil memilih anggota yang
cocok, sempat ada berdebatan kecil untuk menentukan sie acara antara pendapatku
dan pendapat Sisil. Namun hal itu dapat terselesaikan dengan memasukkan pilihan
kami berdua sebagai sie acara. Dua belas santriwati yang kami pilih berada
ditanganku. Total seluruh panitia santri putri adalah lima belas santriwati
yang terdiri dari ketua dijabat aku sendiri, wakil ketua Anis, Sinta sebagai
bendahara, Sisil sebagai sekretaris, dan dua belas lainnya sebagai sie
Pubdekdok, Konsumsi, Acara, dan Humas. Selebar kertas putih salinan “Susunan
Panitia Akhirussanah” segera aku berikan kepada Ustadz Hamid yang kebetulan
sedang memantau kegiatan santri putri agar dikonfirmasi lebih lanjut kepanitiaan ini.
“Assalamu’alaikum,
Ustadz” Salamku sambil menangkupkan kedua tangan.
“Wa’alaikumussalam, Sifa. Ada apa?
Sudah selesai menyusun panitianya?” Ustadz Hamid
membalas tangkupan tangannya kepadaku.
“Sudah Us, ini daftar nama panitia akhirussanah
besok. Apabila Ustadz ada yang tidak berkenan dengan nama tersebut, Ustadz
boleh menggantinya.” Aku menyodorkan selembar kertas kepada ustadz Hamid.
Ustadz Hamid membaca sekilas daftar nama tersebut.
“Boleh juga. Semua keputusan berada ditanganmu Sifa. Karena kamu
sudah dipercayai oleh teman-temanmu sebagai ketua panitia ini. Bersikaplah adil
dan bijaksana dalam memimpin !” Nasehat Ustadz
Hamid.
“InsyaAllah Us. Afwan. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Satu bulan sebelum
acara besar itu dilaksananakan. Panitia sangat sibuk mempersiapkan diri. Aku
dan panitia yang lainnya direpotkan dengan adanya beberapa kendala. Anggaran
biaya yang minim, surat undangan untuk para tamu, tempat lokasi yang kurang
memadai, dan susunan acara yang akan direncanakan. Semua membuat pusing para
panitia. Tak sedikit panitia yang terjatuh sakit karena kelelahan.
Meski begitu, aku tidak akan mau mengecewakan kepercayaan Ustadz Hamid
kepadaku. Sebuah peluang yang jarang didapatkan oleh santri biasa sepertiku.
Malam begitu
tenang dan sunyi. Bintang-bintang saling berlomba-lomba memberi pancaran
sinarnya kepada bumi. Aku terbaring menikmati kelelahankuseharian
penuh ini. Lantunan do’a mp3 menemaniku hingga aku lelap dalam mimpi. Tanpa salam, Sisil mendatangiku.
Mengagetkanku dari sejuta impian yang hendak kucapai.
“Sif, ini gimana proposalnya? Aku belum jelas. Ikut aku ke ruang
panitia yuk. Besok harus selesai kata Gunawan.” Sisil memaksaku untuk pergi
dengannya. Aku sedikit meronta. Menolak ajakannya.
“Sil, apa ndak seharusnya dikerjain besok aja? Ini dah wengi
lho. Lebih baik kita istirahat dulu. Seharian ini kita sudah beraktivitas
penuh. Kalau dipaksa kaya gini, nanti kamu bisa sakit. Acara kita sebentar
lagi. Lebih baik jaga kesehatanmu dahulu. Toh juga masih ada waktu besok kan?”
Terangku kepada Sisil. Sisil terdiam. Terlihat bingung dengan data kertas di
tangannya.
“Maaf kawan, bukannya aku ndak mau bantu. Tapi alangkah
baiknya kita istirahat dulu.” Aku
mengulang perkataanku. Tapi Sisil berbalik badan. Pergi meninggalkan aku tanpa
kata perpisahan.
“Sahabat macam apa kau Sif. Saat sahabatnya sendiri minta bantuan,
kamunya malah egois. Mau menang sendiri. Ketua juga kan kamu? Seharusnya
bantuin anggotamu lah. Ini juga demi acara kita biar lancar. Uhh.” Teriak Sisil
dari depan pintu. Dia memang terlihat marah. Pintu ditutupnya dengan keras.
“Astaghfirullah.” Aku mengelus dada. Air mata menetes dari
pipiku yang cabi. Menahan sakit hati yang mendalam. Kembali balutan selimut
menemaniku malam ini. Mimpi indah menambah hangatnya malam ini. Walau
sebenarnya hatiku sedang rapuh dengan ucapan Sisil tadi.
“Teettt..teett.” Suara
bel membangunkan para santri untuk melaksananakan sholat Lail. Aku memaksakan
badanku yang sebenarnya sulit untuk bangun. Air wudhu menambah kesegaran dalam
tubuhku. Sajadah suci terlentang
menghadap Ilahi. Dari sujud ke sujud. Do’a pun kulantunkan dengan khusyu’.
Mulutku berdzikir sampai datangnya Subuh. Aku berjama’ah sholat Subuh di masjid
Nurul Islam. Ketika sholat usai, Sinta menghampiriku di serambi masjid.
Ia membisikkan bahwa akan diadakan rapat dadakan bersama Pak Kyai langsung di
aula pengurus. Aku mengangguk. Mental kembali diuji. Kalimat toyyibah penenang
hati kembali kulantunkan. Pukul tujuh pagi, aku sudah duduk manis bersama Sinta
dan Akbar selaku ketua panitia putra. Pak Kyai duduk diantara Ustadz Hamid dan
Ustadz Rifai. Setelah lengkap, beliau membuka rapat ini. Rapat ini memang tidak
terlihat serius. Kami mendapatkan motivasi dari Pak Kyai dan Ustadz-Ustadzah akan
kelancaran acara ini. Akhir kata dari Pak Kyai. Beliau menyampaikan pesan yang
berisi:
1.
Ojo pernah gersulo senajan abot (Jangan pernah mengeluh walaupun berat)
2.
Ojo menang dewe.
Kekompakan kudu dijaga
(Jangan menang sendiri.
Kekompakan harus dijaga)
3.
Man
Jadda Wajada
Tiga prinsip yang dapat memotivasiku untuk mensukseskan acara tahun
ini.
“Sif, Sisil kemana kok tadi ndak kelihatan batang
hidungnya?” Tanya Sinta. Aku membisu. Kembali memori mengingatkan kejadian tadi
malam. Haruskah kuceritakan masalah ini kepada Sinta. Sinta memang lebih
dekat dengan Sisil daripada aku. Tiba-tiba Sinta memukulku keras. “Aoow..sakit
Sin.” Rintihku.
“Lah sampean ditanya malah
bengong. Sisil kemana tadi kok waktu rapat ndak kelihatan? “ Ulang
Sinta. Aku pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Sinta. Sinta
mendengarkan ceritaku dengan seksama. Ia mengangguk pelan. Mengerti inti
permasalahan yang aku hadapi.
“Dekatin dia terus Sif. Walaupun cuek, benci, hati seorang wanita
pasti akan luluh kalau kita deketin. Aku yakin itu. Pahami karakter setiap
orang. Jangan sampai persahabatan kita bubar cuma gara-gara masalah sepele
seperti ini. Dan kamu juga harus fokus kepada acara
akhirussanah nanti !” Saran Sinta. Aku mengangguk pelan. Mengerti.
Sampai puncak
acara akhirussanah, Sisil masih saja bersikap dingin kepadaku. Aku selalu
mengajaknya bicara, tapi hanya jawaban singkat yang kudapat. Bahkan aku pernah
ditinggal pergi begitu saja ketika aku menanyakan soal surat undangan
untuk Habib Shodiqi selaku penceramah.
Acara akhirussanah dilaksanakan 1 hari penuh. Pagi sampai sore
dilaksanakan khataman Al-Qur’an. Malamnya
dilanjutkan pengajian oleh Habib Shodiqi. Tema yang diangkat oleh Habib Shodiqi
adalah “Menjaga Tali Ukhuwah Islamiyah.” Sederet kata indah keluar dari mulut
beliau.
“Satu saudara adalah satu tujuan. Dan tujuan tidak akan dapat
terwujud jika tidak ada kerukunan dan kerjasama yang keras.” Aku yang kebetulan
sedang menata makanan untuk tamu bersama Sinta dan Sisil di ndalem juga
menyimak tausiyah dari Habib Shodiqi. Sekelebat pikiranku kembali tertuju
kepada Sisil. Aku langsung menghampiri Sisil.
“Sil, afwan. Maaf aku mengganggumu. Cuma minta maaf jika
selama ini aku pernah salah sama kamu. Ndak baik jika terus marahan seperti
ini. Allah mengharamkan umatnya yang berdiam-diaman lebih dari 3 hari. Dari
lubuk hatiku yang terdalam, aku benar-benar minta maaf Sil. Aku harap kamu
masih membukakan pintu maaf untukku. Dan kamu harus tau alasannya kenapa aku
kemarin nyuekin kamu. Sinta tau semua masalah ini. Aku sudah ceritain ini ke
dia. Aku ndak mau
persahabatan kita hancur Sil. Cuma masalah keegoisan kita.” Mataku berkaca-kaca
menahan tangis.
“Kamu ndak salah Sif. Aku
yang salah. Aku terlalu egois terhadap kalian. Aku juga sudah tau alasannya
kenapa kemarin kamu cuek sama aku. Aku tau ini semua juga karena Sinta.
Sintalah yang menyadarkan aku. Bahkan aku salut sama kamu Sif. Kamu selalu
sabar dalam menghadapi semua sifat setiap orang. Tidak
seperti aku yang mementingkan egoku.” Sisil menjabat tanganku. Aku
langsung memeluk Sisil yang tangisnya pecah. Sinta ikut nimbrung memeluk aku
dan Sisil.
“Hey..kaya teletubbies aja kalian peluk-pelukan segala. Ayo cepetan
itu makanan dikeluarin !” Teriak Ustadz
Hamid. Kami melepas pelukan kami dan langsung bergegas mengikuti intruksi Ustadz
Hamid. Ustadz Hamid tersenyum kepada kami bertiga. Aku hanya memandang heran
Ustadz Hamid. Sinta dan Sisil tertawa lepas melihat wajah Ustadz Hamid yang
aneh. Aku pun ikut-ikutan tertawa. Tertawa bahagia karena “Si Nona S” kembali
bersatu dengan segenap cita-cita yang terimpikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar