Rabu, 16 Desember 2015

ceritakuu

Si Nona S

Pondok pesantren tak asing lagi di telingaku. Tiga tahun sudah aku hidup di pondok pesantren. Pondok pesantren Nurul Islam adalah salah satu pondok terkenal di Jawa Timur. Banyak santriwan santriwati yang mendaftarkan diri untuk masuk ke pondok itu. Karena terlalu banyaknya santri, para pengurus kuwalahan untuk menerapkan peraturan apa yang harus ditaati oleh santri-santri tersebut. Sisil dan Sinta adalah sahabatku lama disini. Sejak pertama kali aku masuk di pondok pesantren ini, merekalah yang mengajakku berkenalan lebih dahulu. Sampai tiga tahun ini mereka masih tetap setia bersamaku saat suka maupun duka. Satu kelas, satu kamar, bahkan satu ranjang dihuni kami bertiga. Karena kedekatan kami itulah santri lain memiliki ide untuk memberi julukan kepada kami yaitu “Si Nona S”. Kedekatan kami bertiga tak hanya terdengar di lingkungan pondok putri saja. Para pengurus dan sebagian santri putra pun juga sudah mengetahui julukan “Si Nona S” tersebut.
“Sif, ayo ke ruang pengurus ! Kita dipanggil Ustadz Hamid sekarang.” Teriak Sisil dari luar kamar.Aku terdiam cukup lama.
“Yee malah bengong ni anak. Ayolah cepat, kita nggak punya banyak waktu lagi.” Kembali Sisil meneriakiku dan menarik tanganku. Memaksa. Mulutku terkunci. Hanya tebak menebak yang berada di pikiranku ssat ini. Rasa takut dan khawatir tak kalah menyerang sekujur tubuhku. Keringat bercucuran dengan derasnya. Aku paling anti dipanggil ke ruang pengurus dan baru pertama kali ini aku dipanggil ke ruang yang konon anker bagi para santri. Anker karena disitulah tempat dimana para santri mendapat sidang.
“Assalamu’alaikum Ustadz. Boleh kami masuk?” Sisil mengetuk pintu.
“Wa’alaikumussalam. Tafadhol ukhti !” Jawab Ustadz Hamid. Sisil lebih dahulu masuk. Aku membuntutinya dari belakang.Ustadz Hamid mempersilahkan kami duduk dengan sopan. Aku semakin kaget setalah melihat Sinta juga berada di dalam.
“Si Nona S berada di ruang pengurus. Pasti akan ada sesuatu yang dahsyat di pondok putri ini.” Lirihku menebak-nebak yang akan terjadi.
“Sebelumnya, Ustadz minta maaf karena sudah memanggil kalian dengan tiba-tiba.” Kalimat halus keluar dari mulut beliau. Ustadz yang sangat terkenal dengan kejudesan, kecuekan, dan ketegasannya dalam menta’zir santri berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Aku yang dari tadi hanya menundukkan kepala, mulai berani memandang Ustadz Hamid. Sedikit ada kelegaan di hatiku. Lama menunggu satu patah dua patah kata selanjutnya dari mulut sang Ustadz, Sinta memberanikan diri untuk angkat bicara.
“Maaf Us, ada hal apakah kami dipanggil kemari? Kami memiliki kesalahan apa Us?” Ustadz Hamid memandang kami bertiga. Senyum kecil mengembang dari bibirnya.
“Kalian tidah usah tegang. Saya memanggil kalian kesini karena saya ingin memberi tugas kepada kalian untuk menjadi panitia akhirussanah besok. Para pengurus dan Pak Kyai sudah memusyawarahkan ini dengan baik. Karena kalian memiliki skill yang cukup bagus dalam melakukan kepemimpinan. Untuk panitia yang lainnya, kami serahkan sepenuhnya kepada kalian.” Ustadz Hamid menjelaskan maksud dan tujuan beliau memanggil kami bertiga ke ruang pengurus.
“Apakah panitia akan terdiri dari santri putri saja Us? Dan kapan akhirussanah dilaksanakan?” Tanyaku menginginkan penjelasan lebih.
“Akhirussanah dilaksanakan secepat mungkin. Untuk kali ini, kami menggabungkan akhirussanah putra dan putri di satu tempat yaitu di depan pondok. Panitia terdiri dari santri putra dan putri. Akan tetapi, panitia tetap berdiri sendiri-sendiri walaupun nanti proses persiapan akan dilakukan kerjasama antara panitia putra dan putri.”
“Syukron Ustadz. Nanti akan kami tindak lanjuti susunan panitia ini. Assalamu’alaikum.” Terangku dan pamit undur diri.
“Wa’alaikumussalam.”
Aku begitu gembira ketika keluar ruangan. Senyum tipis mengembang di bibirku. Perasaan yang tadinya aku kira akan mendapatkan ta’ziran, ternyata tidak. Aku dan dua sahabatku malah mendapatkan tugas yang tanggung jawabnya cukup besar. Menyusun anggota panitia akhirussanah adalah agenda kami bertiga saat ini. Panitia yang terpilih adalah yang benar-benar serius dan mau diajak kerja keras. Aku tak mau salah pilih tentang susunan kepanitiaan ini. Dibawah pimpinanku langsung, aku menyuruh Sinta dan Sisil untuk memilih calon santriwati yang cocok dan sesuai karakter yang ku cari. Setelah aku, Sinta, dan Sisil memilih anggota yang cocok, sempat ada berdebatan kecil untuk menentukan sie acara antara pendapatku dan pendapat Sisil. Namun hal itu dapat terselesaikan dengan memasukkan pilihan kami berdua sebagai sie acara. Dua belas santriwati yang kami pilih berada ditanganku. Total seluruh panitia santri putri adalah lima belas santriwati yang terdiri dari ketua dijabat aku sendiri, wakil ketua Anis, Sinta sebagai bendahara, Sisil sebagai sekretaris, dan dua belas lainnya sebagai sie Pubdekdok, Konsumsi, Acara, dan Humas. Selebar kertas putih salinan “Susunan Panitia Akhirussanah” segera aku berikan kepada Ustadz Hamid yang kebetulan sedang memantau kegiatan santri putri agar dikonfirmasi lebih lanjut kepanitiaan ini.
“Assalamu’alaikum, Ustadz” Salamku sambil menangkupkan kedua tangan.
“Wa’alaikumussalam, Sifa. Ada apa? Sudah selesai menyusun panitianya?” Ustadz Hamid membalas tangkupan tangannya kepadaku.
“Sudah Us, ini daftar nama panitia akhirussanah besok. Apabila Ustadz ada yang tidak berkenan dengan nama tersebut, Ustadz boleh menggantinya.” Aku menyodorkan selembar kertas kepada ustadz Hamid. Ustadz Hamid membaca sekilas daftar nama tersebut.
“Boleh juga. Semua keputusan berada ditanganmu Sifa. Karena kamu sudah dipercayai oleh teman-temanmu sebagai ketua panitia ini. Bersikaplah adil dan bijaksana dalam memimpin !” Nasehat Ustadz Hamid.
“InsyaAllah Us. Afwan. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
            Satu bulan sebelum acara besar itu dilaksananakan. Panitia sangat sibuk mempersiapkan diri. Aku dan panitia yang lainnya direpotkan dengan adanya beberapa kendala. Anggaran biaya yang minim, surat undangan untuk para tamu, tempat lokasi yang kurang memadai, dan susunan acara yang akan direncanakan. Semua membuat pusing para panitia. Tak sedikit panitia yang terjatuh sakit karena kelelahan. Meski begitu, aku tidak akan mau mengecewakan kepercayaan Ustadz Hamid kepadaku. Sebuah peluang yang jarang didapatkan oleh santri biasa sepertiku.
            Malam begitu tenang dan sunyi. Bintang-bintang saling berlomba-lomba memberi pancaran sinarnya kepada bumi. Aku terbaring menikmati kelelahankuseharian penuh ini. Lantunan do’a mp3 menemaniku hingga aku lelap dalam mimpi.  Tanpa salam, Sisil mendatangiku. Mengagetkanku dari sejuta impian yang hendak kucapai.
“Sif, ini gimana proposalnya? Aku belum jelas. Ikut aku ke ruang panitia yuk. Besok harus selesai kata Gunawan.” Sisil memaksaku untuk pergi dengannya. Aku sedikit meronta. Menolak ajakannya.
“Sil, apa ndak seharusnya dikerjain besok aja? Ini dah wengi lho. Lebih baik kita istirahat dulu. Seharian ini kita sudah beraktivitas penuh. Kalau dipaksa kaya gini, nanti kamu bisa sakit. Acara kita sebentar lagi. Lebih baik jaga kesehatanmu dahulu. Toh juga masih ada waktu besok kan?” Terangku kepada Sisil. Sisil terdiam. Terlihat bingung dengan data kertas di tangannya.
“Maaf kawan, bukannya aku ndak mau bantu. Tapi alangkah baiknya kita istirahat  dulu.” Aku mengulang perkataanku. Tapi Sisil berbalik badan. Pergi meninggalkan aku tanpa kata perpisahan.
“Sahabat macam apa kau Sif. Saat sahabatnya sendiri minta bantuan, kamunya malah egois. Mau menang sendiri. Ketua juga kan kamu? Seharusnya bantuin anggotamu lah. Ini juga demi acara kita biar lancar. Uhh.” Teriak Sisil dari depan pintu. Dia memang terlihat marah. Pintu ditutupnya dengan keras.
“Astaghfirullah.” Aku mengelus dada. Air mata menetes dari pipiku yang cabi. Menahan sakit hati yang mendalam. Kembali balutan selimut menemaniku malam ini. Mimpi indah menambah hangatnya malam ini. Walau sebenarnya hatiku sedang rapuh dengan ucapan Sisil tadi.
            “Teettt..teett.” Suara bel membangunkan para santri untuk melaksananakan sholat Lail. Aku memaksakan badanku yang sebenarnya sulit untuk bangun. Air wudhu menambah kesegaran dalam tubuhku. Sajadah suci terlentang menghadap Ilahi. Dari sujud ke sujud. Do’a pun kulantunkan dengan khusyu’. Mulutku berdzikir sampai datangnya Subuh. Aku berjama’ah sholat Subuh di masjid Nurul Islam. Ketika sholat usai, Sinta menghampiriku di serambi masjid. Ia membisikkan bahwa akan diadakan rapat dadakan bersama Pak Kyai langsung di aula pengurus. Aku mengangguk. Mental kembali diuji. Kalimat toyyibah penenang hati kembali kulantunkan. Pukul tujuh pagi, aku sudah duduk manis bersama Sinta dan Akbar selaku ketua panitia putra. Pak Kyai duduk diantara Ustadz Hamid dan Ustadz Rifai. Setelah lengkap, beliau membuka rapat ini. Rapat ini memang tidak terlihat serius. Kami mendapatkan motivasi dari Pak Kyai dan Ustadz-Ustadzah akan kelancaran acara ini. Akhir kata dari Pak Kyai. Beliau menyampaikan pesan yang berisi:
1.      Ojo pernah gersulo senajan abot (Jangan pernah mengeluh walaupun berat)
2.      Ojo menang dewe. Kekompakan kudu dijaga (Jangan menang sendiri. Kekompakan harus dijaga)
3.      Man Jadda Wajada
Tiga prinsip yang dapat memotivasiku untuk mensukseskan acara tahun ini.
“Sif, Sisil kemana kok tadi ndak kelihatan batang hidungnya?” Tanya Sinta. Aku membisu. Kembali memori mengingatkan kejadian tadi malam. Haruskah kuceritakan masalah ini kepada Sinta. Sinta memang lebih dekat dengan Sisil daripada aku. Tiba-tiba Sinta memukulku keras. “Aoow..sakit Sin.” Rintihku.
“Lah sampean ditanya malah bengong. Sisil kemana tadi kok waktu rapat ndak kelihatan? “ Ulang Sinta. Aku pun menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Sinta. Sinta mendengarkan ceritaku dengan seksama. Ia mengangguk pelan. Mengerti inti permasalahan yang aku hadapi.
“Dekatin dia terus Sif. Walaupun cuek, benci, hati seorang wanita pasti akan luluh kalau kita deketin. Aku yakin itu. Pahami karakter setiap orang. Jangan sampai persahabatan kita bubar cuma gara-gara masalah sepele seperti ini. Dan kamu juga harus fokus kepada acara akhirussanah nanti !” Saran Sinta. Aku mengangguk pelan. Mengerti.
            Sampai puncak acara akhirussanah, Sisil masih saja bersikap dingin kepadaku. Aku selalu mengajaknya bicara, tapi hanya jawaban singkat yang kudapat. Bahkan aku pernah ditinggal pergi begitu saja ketika aku menanyakan soal surat undangan untuk  Habib Shodiqi selaku penceramah. Acara akhirussanah dilaksanakan 1 hari penuh. Pagi sampai sore dilaksanakan khataman Al-Qur’an. Malamnya dilanjutkan pengajian oleh Habib Shodiqi. Tema yang diangkat oleh Habib Shodiqi adalah “Menjaga Tali Ukhuwah Islamiyah.” Sederet kata indah keluar dari mulut beliau.
“Satu saudara adalah satu tujuan. Dan tujuan tidak akan dapat terwujud jika tidak ada kerukunan dan kerjasama yang keras.” Aku yang kebetulan sedang menata makanan untuk tamu bersama Sinta dan Sisil di ndalem juga menyimak tausiyah dari Habib Shodiqi. Sekelebat pikiranku kembali tertuju kepada Sisil. Aku langsung menghampiri Sisil.
“Sil, afwan. Maaf aku mengganggumu. Cuma minta maaf jika selama ini aku pernah salah sama kamu. Ndak baik jika terus marahan seperti ini. Allah mengharamkan umatnya yang berdiam-diaman lebih dari 3 hari. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku benar-benar minta maaf Sil. Aku harap kamu masih membukakan pintu maaf untukku. Dan kamu harus tau alasannya kenapa aku kemarin nyuekin kamu. Sinta tau semua masalah ini. Aku sudah ceritain ini ke dia. Aku ndak mau persahabatan kita hancur Sil. Cuma masalah keegoisan kita.” Mataku berkaca-kaca menahan tangis.
“Kamu ndak salah Sif. Aku yang salah. Aku terlalu egois terhadap kalian. Aku juga sudah tau alasannya kenapa kemarin kamu cuek sama aku. Aku tau ini semua juga karena Sinta. Sintalah yang menyadarkan aku. Bahkan aku salut sama kamu Sif. Kamu selalu sabar dalam menghadapi semua sifat setiap orang. Tidak seperti aku yang mementingkan egoku.” Sisil menjabat tanganku. Aku langsung memeluk Sisil yang tangisnya pecah. Sinta ikut nimbrung memeluk aku dan Sisil.
“Hey..kaya teletubbies aja kalian peluk-pelukan segala. Ayo cepetan itu makanan dikeluarin !” Teriak Ustadz Hamid. Kami melepas pelukan kami dan langsung bergegas mengikuti intruksi Ustadz Hamid. Ustadz Hamid tersenyum kepada kami bertiga. Aku hanya memandang heran Ustadz Hamid. Sinta dan Sisil tertawa lepas melihat wajah Ustadz Hamid yang aneh. Aku pun ikut-ikutan tertawa. Tertawa bahagia karena “Si Nona S” kembali bersatu dengan segenap cita-cita yang terimpikan.

SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar